Aku Tak Lagi Merindukanmu

Inginnya sih to the point saja di tulisan ini. Inginnya sih beri tahu
langsung apa yang sedang melanda diri ini. Tapi, sepertinya
bertele-tele lebih mengasyikan yah?. Baiklah.

Kamu, bukan orang lain bukan?.
Aku, bukan juga yang baru kau kenal bukan?.
Kita pernah berbagi cerita di sepanjang malam, bahkan kamu
menginginkannya sampai pagi.
Kita juga sering sekali bercanda ketika salah satunya muram, untuk
apakah?. Menghibur bukan?.
Kemarin kemarin, kemarin yang sudah lama itu. Aku masih berharap itu
terulang kembali, lagi dan lagi. Tapi itu kemarin.
Kali ini, entah apa yang membuatnya. Aku tak lagi membutuhkan itu ada
ketika tak bahagia, aku tak lagi berharap itu terulang, bahkan aku tak
lagi suka bercanda.
Aku berubah karna ada yang mengubahnya. Tak lagi aku perduli, atau
memikirkannya. Sering, belakangan ini aku meninggalkan obrolan sialan
itu kedalam tidurku.
Saat terbangun, aku tak lagi berharap ada balasan. Aku sudah tak begitu peduli.
Mungkin, aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan ketika itu, ketika
aku sangat seperti itu. Mencintaimu, merindukanmu juga.
Namun kali ini. Aku mulai biasa saja.
Mencintaimu pasti masih, cuman rindu?. Tidak.
Kau milikku, aku tau. Tahu persis. Aku merindukanmu?, lagi?. Jangan harap.
Seperti ada trauma dan luka. Aku takut menghadirkan rasa rindu itu,
jujur saja. Makanya, sudah ku tinggalkan perasaan merindumu. Biarlah,
bukankah kau tak peduli?. Biasanya iya.
Tenang, aku sedang tidak menginginkan yang lain. Tapi, aku juga tidak
menginginkanmu saat ini. Bayanganmu, atau apapun. Biasa saja.
Takutkah kamu kehilangan aku?, tidak?. Hmmm kau seperti biasanya. Baguslah.
Kejadian kemarin, kamu pasti tau apa. Itu menghancurkan beberapa
mimpi, banyak rasa dan menghadirkan ketidakpedulianku.
Salah satunya, Aku Tak lagi merindukanmu.
Maaf.

Habibie, Aku Ibumu.

Wanita seumurku mungkin sedang sibuk sibuknya menyusun proposal skripsi S1 atau sedang menunggu Wisuda D3. Tapi aku, Masih bergelut dengan berbagai masalah jam siaran harian para penyiar, bergulat dengan koran setiap pagi, berteman dengan laporan-laporan keuangan. Aku belum lulus kuliah, gelarku masih harus di tunda. Tapi Aku, sudah beberapa langkah lebih maju pengalaman kerjanya dibanding mereka yang baru mau selesai sekolah.
Pagi ini di kendaraan yang bertuliskan Ciapus – Ramayana 03, aku duduk di pojokan dan memperhatikan seorang anak kecil berusia sekitar 2 sampai 3 tahun. Aku yang biasanya egois duduk di depan, kali ini duduk di pojok kunikmati juga, karna anak itu. Anak laki-laki bertopi Tom and Jerry, memakai Polo Shirt dan Celana Pendek dia mengenakan sendal gunung yang kecil di sepasang kaki kecilnya juga. Anak ini, ibunya siapa?.
Seorang wanita muda, berseragamkan PNS merangkul si kecil ini, dia bilang “Kakak, sama nenek dulu yah, mama nanti jemput kakak jam 5 sore, kakak jangan bandel ya”. “Iya mama, aku mau ben10 ya ma, sikat gigi sama odol ben10”. “Iya nak”.
NAK, lembutnya sebutan itu, aku ingin menyebutnya suatu saat nanti kepada anak-anakku. Anak ini masih mengganggu pikiranku, dia punya kulit putih yang mulus, dilehernya masih ada bekas bedak tabur yang di berikan ibunya agar dia tidak kena biang keringat. Cemong tapi lucu.
Tingkahku yang tomboy, yang tidak ingin menikah, yang tidak ingin punya anak

ANAKKU

Selamat pagi anakku, anak yang baik.
Lekaslah bangun karna sekolahmu cukup jauh.
Bersemangatlah sekolah, kelak kamu akan menyesal ketika sekolah
terlewat sia-sia.
Akan aku bantu mengerjakan PRmu dari guru, akan aku buatkan cemilan
sambil mengerjakannya.
Pastilah kau akan nyaman dan menjawab tugas-tugas itu dengan benar, karna bakat pintar ayahmu sudah menular.

Tidurlah siang hari, tidurlah supaya tidak mengantuk ketika sore mengaji.
Anak-anak semestinya tidur siang, dan ku harap kamu pun sama seperti keseharusannya.
Mata yang bening berbinar milikmu, seperti mata milikku dulu nak. Mata yang belum menilik banyak orang licik.
Mata yang masih indah, yang hanya melihat mainan, makanan, dan mengeluarkan biji biji tangisan tiap malam.

Tumbuhlah sehat dan juga benar.
Hiduplah jujur juga jauh dari hutang.

Panjang umurlah, untuk kamu rasakan cita-citamu nanti yang sekarang
masih sering berubah.

Andini Masito, Ibumu Kelak.
Di Sahur ke 24 Bulan Ramadhan 1435 H

LONG DISTANCE RE(A)LATIONSHIP

Let’s face it, long distance relationships are difficult.
But the fact is, love doesn’t care about area codes.
Sometimes you find that perfect someone lives in another city, state, country or continent.
And while it’s not easy maintaining a relationship through phone
calls, texts, emails and video chats, long distance relationships do
have their benefits.
For example, there aren’t many things more romantic than being reunited with the one you
love after being separated for some time.
Distances create longing, desire, a yearning to be in the physical presence of that special person, something others might find lacking in their relationship.
Though long distance relationships require more work, it is precisely
for that reason that they can be incredibly rewarding.

NAM
12.47 WIB
DAri Meja Redaktur, Meja saya sendiri.

Hallo Piyan

PIYAN, MAU MAUNYA TEMENAN SAMA SI DILAN IH.

Pidi Baiq

Hallo Piyan. Apa khabar?

Kamu masih ingat enggak sih? Dulu waktu kita masih kecil, waktu masih SMP, sore-sore di belakang rumah saya, kamu, saya, sama si Afud, pernah ngolesin Rhemason ke pantat kucing? Ha ha ha iya pake Rhemason neneknya si Afud ya? Kucingnya dikurungin dulu pake kurungan ayam, nunggu sepi. Pas udah gak ada orang baru kita olesin.

Eh, pas udah diolesin, kalau gak salah kucingnya enggak langsung lari ya? Iya bener, diem dulu sebentar, kan belum kerasa panasnya, pas udah kerasa langsung deh lari pontang-panting ha ha ha iya, kitanya juga langsung kabur, ke rumah masing-masing. Takut dimarah. Itu kucing siapa sih? Kucing Bi Entin ya? Ha ha ha iyaaa, kucing angora. Kasian ih, kan dia orang kaya. Rumahnya paling bagus di Perum. Dulu mah kita nyebutnya Perum. Kalau angkot disebut Honda.

Terus, inget gak, waktu si Afud bawa obat gosok? Itu, Yan, obat gosok tradisional yang dibawa bapaknya si…

Lihat pos aslinya 875 kata lagi

KEONG DAN KELINCI, DONGENG SETELAH TIDUR

DONGENG SURAYAH

Pidi Baiq

KEONG DAN KELINCI

(Dali hati yang dalam untuk mama papa yang loyal)

Ini kisah lama. Kisah tahun 1823. Kisah tentang dua ekor binatang.

Si kelinci, namanya Klin Klin. Si Keong sawah, namanya King Kong. King Kong Sentiong Barepa lengkapnya. Mereka tidak ada janji bertemu. Tapi mereka bertemu di areal pesawahan, pada sore hari itu.

King Kong, mendapatkan Klin Klin sedang membuat hurup K dengan pulpen biru pada bagian punggung tangannya. Dia bersandar di pohon Ki hujan yang tumbuh di pematang sawah.

Si King Kong sendiri sedang duduk menggambar. Dia menggambar seribu tangkai bunga mawar di atas permukaan lumpur. Kedua binatang itu asik dengan dirinya sendiri. Tidak saling peduli. Tidak ada suara, kecuali angin. Atau sesekali terdengar suara Klin Klin meludahkan dahaknya jauh-jauh.

Tapi lama-lama, si Klin Klin mulai membuat si King Kong sebal. Itu, mata si Klin Klin suka seperti sengaja mendelik ke arah King Kong. Dia melakukannya sambil senyum…

Lihat pos aslinya 563 kata lagi

SAHIRA RAMADHANI

Selamat Sore.
Menjelang pulang dari kantor hari ini, tiba-tiba saya ingat moment tadi pagi.
pagi tadi, di bangunkan oleh nomor XL yang tidak bersuara, dan nomor AS tiba tiba manggil, pas di angkat itu ada suara tangis. pikiran udah melayang kemana-mana. entah itu dari saudara jauh atau adik, bahkan udah mikir kamu kenapa-napa.
SMS masuk.
Andin, Sahira Meninggal.
Segera saya telpon balik, tapi nomor sibuk. saya juga sibuk cari kebenaran info dari sstatus yang sms tadi ternyata gak ada.
Telepon masuk lagi,Angga histeris. Angga nangis, bilang anak satu-satunya di ambil ALLAH.